Showing posts with label Iptek. Show all posts
Showing posts with label Iptek. Show all posts

Wednesday, April 8, 2015

Melihat Isi Otak Para Pembunuh Secara Ilmiah



Mengapa para pembunuh begitu kejam? Apa yang ada di dalam otak mereka? Untuk mencari tahu hal tersebut, para ilmuwan berusaha menyelidiki pikiran para pembunuh untuk mengetahui bagaimana mereka dapat membenarkan tindakan kekerasan dan kejahatan.

Scan otak menunjukkan wilayah yang disebut lateral orbitofrontal cortex (OFC) menjadi aktif pada orang-orang yang membenarkan kejahatan. Peneliti mengklaim hasilnya dapat memberikan pengetahuan penting tentang bagaimana orang-orang dalam situasi tertentu, seperti perang, mampu melakukan kekerasan ekstrem terhadap orang lain.

Penelitian yang dipimpin oleh Monash University, meminta relawan untuk bermain video game di mana mereka membayangkan diri mereka menembak warga sipil tak berdosa atau tentara musuh. Dr Pascal Molenberghs kemudian merekam aktivitas otak mereka menggunakan functional magnetic resonance imaging (fMRI) saat mereka bermain.

“Ketika peserta membayangkan diri mereka menembak warga sipil, aktivasi yang lebih besar ditemukan di lateral OFC, area otak penting yang terlibat dalam pengambilan keputusan moral," kata Dr Molenberghs.

Hasil menunjukkan bahwa mekanisme saraf yang biasanya terlibat dengan merugikan orang lain menjadi kurang aktif ketika kekerasan terhadap kelompok tertentu dipandang sebagai hal yang benar.

"Temuan menunjukkan bahwa ketika seseorang bertanggung jawab atas apa yang mereka lihat sebagai kekerasan dianggap benar atau tidak dibenarkan, mereka akan memiliki perasaan bersalah yang berbeda yang terkait dengan itu," kata Dr Molenberghs. "Untuk pertama kalinya kita bisa melihat bagaimana rasa bersalah ini berhubungan dengan aktivasi otak tertentu."

Penelitian ini mengikuti penelitian terpisah tahun lalu yang menemukan sebagian besar tindak kekerasan berasal dari keinginan yang besar untuk melakukan hal yang benar. Studi tersebut berpendapat bahwa banyak serangan kekerasan yang dilakukan sebagai bentuk retribusi, dengan perasaan agresor seolah-olah mereka harus melakukan kejahatan.

"Ketika seseorang melakukan sesuatu untuk melukai diri sendiri atau orang lain, atau membunuh seseorang, mereka biasanya melakukannya karena mereka berpikir mereka harus,” kata Profesor Alan Fiske dari University of California. "Mereka pikir mereka harus melakukannya, bahwa itu adalah hal yang benar untuk dilakukan, bahwa mereka harus melakukannya dan bahwa itu secara moral diperlukan."

Tahun lalu, seorang ahli saraf Jerman juga mengklaim telah menemukan bagian otak ‘jahat’ mana yang mengintai pembunuh, pemerkosa dan perampok.

Ilmuwan Bremen Dr Gerhard Roth mengatakan ‘bagian jahat' itu terletak pada lobus tengah otak dan muncul sebagai massa gelap pada sinar-X. Dia menemukan ketika menyelidiki pelaku yang dihukum akibat tindakan kekerasan selama bertahun-tahun untuk studi pemerintah Jerman.

"Kami menunjukkan orang-orang ini film pendek dan diukur gelombang otak mereka," katanya. "Setiap kali ada adegan brutal dan kotor, subyek tidak menunjukkan emosi. Di daerah otak mana kita membuat kasih sayang dan kesedihan, tidak ada yang terjadi."

Massa gelap di depan otak, katanya, muncul di semua scan orang dengan catatan kekerasan kriminal.

Penelitiannya telah membuatnya percaya bahwa beberapa penjahat memiliki 'genetik kecenderungan' kekerasan.

"Ketika Anda melihat scan otak penjahat, hampir selalu ada kekurangan parah di dahi bagian bawah otak,” katanya menambahkan. "Ada kasus di mana seseorang menjadi penjahat akibat dari tumor atau cedera di daerah itu, dan setelah operasi pengangkatan tumor dilakukan, orang itu benar-benar normal kembali."

Atau ada defisit fisiologis, karena zat-zat tertentu seperti serotonin di otak depan tidak bekerja secara efektif.

Wednesday, April 1, 2015

Kisah Horor dan Upaya Manusia 'Menembus' Bumi

Ini kisah horor yang pernah heboh: konon, pada 1970-an, para ilmuwan Rusia berniat 'melubangi' Bumi. Mereka menggali tanah hingga kedalaman lebih dari 14 kilometer menembus lapisan kerak (earth crust).

Namun, hawa panas sekitar 2.000 derajat Fahrenheit atau 1.093 derajat Celcius menghentikan penggalian itu. Para ilmuwan lalu memasukan mikrofon untuk mendapatkan data audio pergerakan kerak bumi. Namun, mereka takut bukan kepalang saat mendengar suara mirip teriakan jutaan orang yang sedang disiksa.

Tak hanya itu, penampakan mengerikan mirip kelelawar disebut muncul dari lubang untuk memberikan peringatan keras. Kaget dan merinding, para ilmuwan memutuskan untuk menghentikan proyek mereka.

Meski mayoritas berisi kebohongan, ada kebenaran di balik kisah tersebut. "Uni Soviet (memang) mencoba menggali sedalam mungkin dari tahun 1970-1989. Namun berhenti di kedalaman 12 kilometer, hanya sekitar 0,1 persen dari kedalaman yang dibutuhkan untuk menembus Bumi," kata fisikawan Alexander Klotz dari McGill University di Montreal, Kanada, seperti dikutip dari situs sains LiveScience, Rabu (1/4/2015).

Kini, topik yang sama kembali mencuat: upaya manusia untuk menembus Bumi. Jika terowongan berhasil dibuat, kira-kira berapa waktu yang dibutuhkan?

Skenario sebelumnya menyebut tentang 'terowongan gravitasi' (gravity tunnel) yang dibor dari satu sisi Bumi, melewati inti, dan keluar dari sisi lain planet. Dengan cara itu, waktu yang diperlukan adalah 42 menit dan 12 detik.

Mengasumsikan bahwa Bumi adalah planet padat seperti kelereng.  Tantangannya adalah bagaimana agar terowongan tahan panas yang intens dan pepatnya tekanan di dalam Bumi.

Kini, perhitungan terbaru menyebut, waktu yang dibutuhkan mungkin lebih pendek dari 42 menit.

Kuncinya adalah kekuatan daya tarik gravitasi bumi, yang berkaitan dengan kepadatan yang berbeda di berbagai lapisan Bumi. Kekuatan gravitasi akan berkurang saat seseorang mendekati inti Bumi.



Dengan mengasumsikan tak ada hambatan udara, momentum jatuh bisa berayun ke permukaan sisi lain Bumi.  Siapapun yang terjun harus memastikan segera keluar dari lubang. Atau, ia akan kembali jatuh, meluncur bolak-balik di dalam terowongan gravitasi, seperti pendulum yang berayun.

"Bayangkan seperti perosotan yang membutuhkan waktu 40 menit untuk turun, hingga kecepatan 8 kilometer per detik," kata Alexander Klotz. "Pada setengah jalan, gravitasi akan berubah arah, Anda akan berayun dan harus berpegangan pada sesuatu jika tak ingin kembali ke asal."

Asumsi 42 menit yang dikeluarkan pada 1966 mengabaikan bagaimana cara mengebor lubang hingga kedalaman 12.742 km sampai tembus ke sisi Bumi yang lain. Hipotesis tersebut mengasumsikan bahwa planet manusia seperti kelereng.

Kini dengan perhitungan yang lebih realistis, Klotz menemukan waktu yang dibutuhkan untuk menembus Bumi adalah 38 menit dan 11 detik -- sekitar 4 menit lebih cepat dari yang dikira sebelumnya.

Klotz mendasarkan kalkulasinya pada struktur internal Bumi yang didapatkan dari data seismik. Kerak bumi, kata dia, memiliki kepadatan kurang dari 3 gram per centimeter kubik, sementara di bagian inti kepadatannya 13 gram per centimeter kubik.

Pola kepadatan Bumi tak otomatis gradual berdasarkan lapisannya. Ada peningkatan tajam di batas antara mantel dan inti terluar -- di kedalaman 2.900 km.

Para fisikawan juga mengasumsikan tak ada hambatan udara di terowongan gravitasi. "Saya membayangkan, jika kita bisa memiliki teknologi untuk menggali terowongan sedalam itu, kita sudah mempunyai teknologi untuk menghisap udara dari dalamnya," kata Klotz.

Yang mengejutkan, Klotz menemukan bahwa kalkulasinya nyaris identik -- dengan hasil jika ia mengasumsikan kekuatan tarikan gravitasi seragam di seantero Bumi, termasuk di permukaan. Kok bisa?

Ini jawabannya, "gravitasi hanya berubah sekitar 10 persen saat sesorang menuju ke kedalaman Bumi  -- awalnya menguat, lalu melemah. Menguat di kedalaman 3.000 km," kata Klotz. "Awalnya terasa berat dan harus menambah kecepatan untuk bergerak, namun, ketika mencapai wilayah di mana gravitasi berbeda dengan permukaan, seseorang butuh lebih sedikit waktu untuk melewatinya."

Klotz menjelaskan secara detil temuannya dalam American Journal of Physics edisi Maret 2015. Namun, jangan pernah mengharapkan seseorang menguji apakah perhitungan itu benar dalam waktu dekat. Manusia belum punya teknologi menembus Bumi.

sumber: liputan6.com