Showing posts with label Kisah Inspiratif. Show all posts
Showing posts with label Kisah Inspiratif. Show all posts

Monday, August 15, 2016

Kisah Inspirasi: Izinkan Saya Berzina dengan Anak Bapak

Suatu hari sepasang muda-mudi akan pergi untukberjalan-jalan. Setibanya pemuda di rumah orang tua sang gadis untuk menjemputnya.



Gadis: Masuk dulu ya, bertemu sama ayah
Pemuda : Boleh kah?
Gadis: Masuk saja, saya bersiap-siap dulu.
Masuklah sang pemuda melalui pintu utama. Pintu yang siap terbuka mengelu-elukan kedatangan si pemuda.
Pemuda : Assalamualaikum.
Ayah Gadis : waalaikumussalam!
Mendengar lantangnya suara Ayah si gadis, si pemuda kaku membatu. Lantas si gadis menyadarkan pemuda dari lamunan itu. Entah apa yang dipikirkannya.
Gadis : Mari, silahkan duduk
Pemuda : eh.,iyaa
Setelah mengucapkan salam dan berjabat tangan, duduklah si Pemuda di kursi yang hampir menghadap Ayah si gadis. Hanya koran yang menjadi ‘sitroh’ antara mereka.
Ayah Gadis : hendak jalan kemana hari ini?
Pemuda : ke Kota saja Pak, dia mau mencari barang katanya. entah barang apa saya tidak tahu.
Ayah Gadis : oh..
Pemuda : . . .
Hampir 5 menit suasana senyap tanpa suara. Dan ibu si gadis keluar dari ruang belakang membawa air dan kue kering. Si Pemuda pun tersenyum manis.
Ibu Gadis : Silahkan diminum dulu nak. Kamu sudah sarapan?
Pemuda : eh, Sudah Bu. Terima kasih.
Ibu Gadis : kamu ini malu-malu segala dengan kami.
Pemuda : saya hanya segan Bu. Hehe
Ayah Gadis : kapan kamu mau mengirim rombongan (lamaran)?
Ibu Gadis : eh, ayah ini?
Pemuda : hmm. Saya belum memiliki banyak uang Pak. Hehe
Ayah Gadis : kamu bawa anak kami kesana-kemari. Apa orang kata nanti?
Pemuda: (sebenarnya Malu dengan orang lain, serta malu dengan Allah). Setiap kami pergi kami selalu naik mobil Pak, tidak pernah berdekatan apalagi sampai bergandeng tangan. Oh iya, bisa saya tanya sedikit Pak?
Ayah Gadis : tentu saja, silahkan!
Pemuda : bapak dan ibu ingin saya menyediakan uang berapa untuk lamaran ini?
Ibu Gadis : kalau bisa Rp.20.000.000,-
Ayah Gadis : ehh, tapi kalau bisa lebih besar dari orang sebelah yang naksir juga sama gadis.
Pemuda : Maaf, Berapa itu Bu?
Ayah Gadis : Rp.40.000.000,- syukur-syukur bisa lebih
Pemuda : (Ya Allah, whhooa.. Rp.40.000.000,- darimana saya dapat uang sebanyak itu, aduh) Besar sekali Pak, apakah tidak bisa lebih sedikit, kita buat acara sederhana saja. Cukup mengudang keluarga, saudara dan tetangga dekat?
Ayah Gadis : itu nasib kamu nak, kamu yang akan menikahi anak kami. Lagipula dialah satu-satunya anak perempuan kami.
Si Pemuda pun hampir hilang akal ketika disebutkan ‘harga’ si gadis itu. Dan si Pemuda mencoba kembali berdiskusi dengan orang tua gadis pujaan hatinya.
Pemuda : Boleh saya bertanya lagi, apakah anak bapak pandai memasak?
Ayah Gadis : hmm,.boro-boro. Bangun tidur saja jam 10 lebih, bukan bangun pagi lagi itu. Habis bangun terus langsung makan siang.
Ibu Gadis : Apa sih ayahnya ini, anaknya mau dijadikan istri, dia malah cerita yang jelek-jelek.
Ayah Gadis : Ibunya pun sama suka terlambat bangun juga.
Ibu Gadis : ih ayah ini!
Pemuda: (bengong) Ehh.. iya cukup pak,
sekarang saya sudah tau. Kalau boleh bertanya lagi, bisa kah dia membaca Qur’an?
Ibu Gadis: bisa sedikit-sedikit kok
Pemuda : belajar dengan maknanya?
Ibu Gadis : mungkin.
Pemuda : hmm.
Ibu Gadis : kenapa?
Pemuda : Oh, tidak apa – apa bu. Pertanyaan terakhir, apakah dia rajin sholat?
Ayah Gadis : Apa maksud kamu tanya semua ini !? Dia kan dekat dengan kamu. Harusnya kamu juga tahu.
Pemuda : Setiap sedang diluar dan saya ajak sholat, dia selalu bilang sedang datang bulan. Sedikit – sedikit datang bulan. Saya jadi bingung, sebenarnya dia bisa sholat tidak.
Ayah dan Ibunya begitu kaget. Dan pada wajahnya begitu kemerahan menahan amarah.
Pemuda : Boleh saya sambung lagi. Dia tak bisa masak, tak bisa sholat, tak bisa mengaji, tak bisa menutup aurat dengan baik. Sebelum dia menjadi istri saya, dosa-dosanya juga akan menjadi dosa bapak dan ibu. Lagipula tak pantas rasanya dia dihargai Rp.40.000.000,-. Kecuali dia hafidz Qur’an 30 juz dalam kepala, pandai menjaga aurat, diri, dan batasan-batasan agamanya. Barulah dengan mahar Rp.100.000.000,-pun saya usahakan untuk membayar.
Tapi jika segala sesuatunya tidak harus dibayar mahal mengapa harus dipaksakan untuk dibayar mahal ? Seperti halnya mahar. Sebab sebaik-baik pernikahan adalah serendah-rendah mahar. Mata ayah si gadis direnung tajam oleh mata ibu si gadis. Keduanya diam tanpa suara.
Sekarang ketiganya menundukkan kepala. Memang sebagian adat menjadikan anak perempuan untuk dijadikan objek pemuas hati menunjukkan kekayaan dan bermegah-megah dengan apa yang ada, terutama pada pernikahan. Adat budaya mengalahkan masalah agama. Para orang tua membiarkan bahkan menginginkan anak perempuan dihias dan dibuat pertunjukkan di muka umum.
Sedangkan pada saat akad telah dilafadz oleh suami, segala dosa anak perempuan sudah mulai ditanggung oleh si suami.
Ayah Gadis : tapi kan, ayah hanya ingin anak ayah merasakan sedikit kemewahan. Hal seperti tu kan hanya terjadi sekali seumur hidup.
Pemuda : Bapak ingin anak bapak merasakan kemewahan?
Ibu Gadis : tentulah kami berdua pun turut gembira.
Pemuda : sungguh demikian ? boleh saya sambung lagi? bapak, ibu.. saya bukanlah siapa – siapa. Sekarang dosa anak Bapak, Bapak juga yang tanggung. Esok lusa setelah akad nikah terus dosa dia saya yang tanggung.
Belum lagi pasti bapak dan ibu ingin kami bersanding lama di pelaminan yang megah, anak Ibu dirias dengan riasan secantik-cantik­nya dengan make up dan baju paling mahal, di hadapan ratusan undangan agar kami terlihat mewah pula. Salain setiap mata yang memandang kami akan mendapat dosa. Apakah begitu penting hal tersebut jika dalam kehidupan sehari-hari kita malah berusaha untuk hidup sesederhana mungkin tanpa berlebih-lebihan.
Ibu si gadis segera mengambil langkah mudah dengan menarik diri dari pembicaraan itu. Si ibu tahu, si pemuda berbicara menggunakan fakta islam. Dan tidak mungkin ibu si gadis dapat melawan kata si pemuda itu.
Ayah Gadis : Kamu mau berbicara mengajari masalah agama di depan kami?
Pemuda : ehh. maaf pak. Bukan saya hendak berbicara / mengajari masalah agama. Tapi itulah hakikat. Terkadang kita terlalu memandang pada adat sampai lupa agama.
Ayah Gadis : sudah lah. Kamu sediakan Rp.40.000.000,- kemudian kita bicarakan lebih lanjut. Kalau tidak ada, kamu tak bisa kimpoi dengan anak ku!
Pemuda : Semakin lama lah hal itu. Mungkin di umur saya 30 atau lebih, saya baru bisa mengumpulkan uang tersebut dan bisa masuk meminang anak bapak.
Baiklah, .kalau memang bapak berharap tetap demikian, maka ’izinkan saya berzina dengan anak bapak’?
Ayah Gadis : hei! Kamu sudah berlebihan!, kamu jaga baik-baik omongan kamu itu.
Pemuda : dengar dulu penjelasan saya pak. Apa bapak tahu alas an orang berzina dan banyak orang memiliki anak di luar nikah? Sebab salah satunya hal seperti ini lah pak. Selalu saja orang tua perempuan menempatkan puluhan juta rupiah untuk mahar, harus menunggu si pria mempunyai pekerjaan dengan gaji begitu tinggi, sampai pihak pria terpaksa menunda keinginan untuk menikah. Tetapi cinta dan nafsu kalau tidak diwadahi dengan baik, setan yang jadi pihak ketiga untuk menyesatkan manusia.
Terlebih di zaman seperti ini yang cobaan dan kondisinya tidak seperti zaman bapak dan ibu dulu. Akhirnya mereka mengambil jalan pintas memuaskan nafsu serakah dengan berzina. Pertama memang hal yang ringan-ringan dulu pak, pegang-pegangan tangan, saling memeluk, dan sebagainya. Tapi semakin lama akan menjadi hal berat. Yang berat-berat itu bapak sendiri pun bisa membayangkan.
Ayah Gadis : lantas apa kaitan kamu dengan hendak berzina pula !?
Pemuda : Begini logikanya. Sepertinya yang terjadi dengan anak-anak lainnya. Bapak tidak memberi izin kami menikah sekarang, biar ada berpuluh juta uang dulu baru bisa menikah.
Kami hendak melepaskan nafsu bagaimana pak? setiap harinya kami mengenal lebih dekat dan semakin dewasa. Dia meminta saya menengoknya, semakin cinta saling melepas rasa rindu. Susah pak, itu Nafsu yang diberikan kepada manusia. Sebab itu saya dengan rendah hati meminta izin pada bapak untuk berzina dengan anak bapak. Terlepas apakah yang penting bapak tahu saya dan dia hendak berzina. Sebab rata-rata orang yang berzina itu orang tua tidak tau pak, tidak. Kelihatannya pemuda -pemudi zaman sekarang biasa-biasa saja padahal sebenarnya sudah pernah bahkan sering berzina. Ironisnya banyak orang menganggap hal itu tidak tabu lagi. Berzina bukan saja hal yang ehem-ehem saja. Ada zina-zina ringan, zina mata, zina lidah, zina telinga dll. Tapi sebab hal ringan itu lah yang akan menjadi berat.
Ayah Gadis : hmm. Kamu ini begitu pelik dan memperumit saja. Beruntung kamu bukan orang lain. Kalau orang lain, sudah dari tadi saya angkat parang. Begini nak, Tapi kalau tidak ada uang, bagaimana kamu akan memberi dia makan??
Pemuda : hehe. Bapak. lupakah Bapak dengan apa yang telah Allah pesankan pada kita.
“Dan menikahlah orang-orang bujang (pria dan perempuan) dari kalangan kamu, dan orang-orang yang sholeh dari hamba-hamba kamu, pria dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka. sesungguhnya karunia Allah Maha luas (rahmat dan karunianya), lagi Maha Mengetahui.” (An Nur 32).
Apakah kita tak yakin dengan apa yang Allah janjikan. Bapak dan Ibu juga pernah lah menjadi muda. Masalah datangnya harta, selagi kita terus berusaha itu adalah Rahmat-Nya yang sudah ditakdirkan pada tiap-tiap hamba-Nya. Lagipula pak, kalau makan dan minum itu Insya Allah, saya sanggup untuk memberikannya. Tempat tinggal bisa kita bicarakan lagi. Kalau hal ini bisa menghalangi kami dari melakukan dosa dan sia-sia. Apakah tidak lebih baik disegerakan. Bapak pun tak mau hal-hal tak tidak diinginkan terjadi.
Bapak si Gadis Diam tanpa kata, merenung kata – kata si pemuda, berusaha memikirkan cara untuk mematahkan kata-kata si Pemuda. Dan ayah si gadis mendapat akal.
Ayah Gadis : kamu tahu lah zaman sekarang ni. Kalau mengikuti cara kamu itu. Mungkin kamu tidak suka dengan acara persandingan yang mewah, Bapak bisa terima. Tapi kamu apa bisa menerima apa yang akan orang-orang katakan. Orang akan mengatakan anak aku ‘kecelakaan’ dan terpaksa menikah dengan kamu. Mau ditaruh dimana muka ini.
Pemuda : bagus juga pikiran bapak itu. Kalau ‘kecelakaan’ mana mau saya menikahi anak bapak. Karena akan selamanya menjadi haram, orang yang zina tidak akan pernah menjadi halal sekalipun dengan pernikahan. Kalau bapak memaksa ya sudah. Bisa ikut nikah masal kan bagus juga bisa berhemat tapi tetap ramai.
Ayah Gadis : serius lah nak!
Pemuda : begini pak, sekali lagi rasanya tidak perlu membayar puluhan juta dan mahar yang berlebihan sehingga memaksa diluar kemampuan. Tapi saya tak mengatakan tidak ada walimatul urus. Sedang walimatul urus itu tetap perlu dan disesuaikan dengan kemampuan. itu cara islam. Saya bukan hendak macam-macam dengan bapak. Syariat memang seperti itu. Maha baiknya Allah sebab masih menjaga kita selama ini, tapi hal sepele seperti ini pun kita masih memandang ringan dan kita tak percaya dengan apa yang telah Allah janjikan.
Saya benar-benar minta maaf kalau ada kata-kata saya yang membuat bapak tidak senag terhadap saya. Tidak juga bermaksud tidak takdzim dengan bapak dan ibu. Segalanya kita serahkan pada Allah, kita hanya bisa merencanakan saja.
Azan dzuhur berkumandang, jaraknya tidak sampai 10 rumah dengan rumah si gadis. Si pemuda memohon untuk ke surau dan mengajak bapak si untuk pergi bersama. Namun ajakan ditolak dengan lembut. Lantas sang pemuda memberi salam dan memohon untuk keluar.
Di pinggir jendela tua si gadis melihat si pemuda mengeluarkan kopiah dari sakunya dan segera di pakainya. Lalu masuk mobil dan hilang dari penglihatan si gadis tadi.
Sedang si gadis yang sedari tadi berdiri di balik tirai bersama ibunya meneteskan air mata mendengar curahan kata-kata si pemuda terhadap ayahnya. Kerudung lebar pemberian si pemuda sebagai hadiah padanya yang lalu digenggam erat. Ibu si gadis juga meneteskan air mata melihat pada perilaku anaknya. Segera ibu dan si gadis ke ruang tamu menghadap ayahnya.
Ibu Gadis : Apa yang anak itu katakan benar. Kita ini tak pernah memperhatikan syariat-syariat ringan agama selama ini. Terlalu melihat dunia, adat dan apa kata orang. Padahal mereka tak pernah juga peduli pada kita.
Ayah Gadis : hmm.. entahlah, ayah tak tahu. Begitu keras yang anak itu katakan tadi. Dia berpesan tadi, kamu suruh bersiap, lalu setelah dzuhur dia jemput kamu.
Gadis : sudah tidak ada semangat untuk pergi ayah. Kemudian si gadis menggapai telepon genggamnya dan mengetik pesan.
Si Pemuda yang selesai mengambil wudhu tersenyum saat membaca pesan yang baru saja diterima dari si gadis,
“Andai Allah telah memilih dirimu untukku, aku ridho dan akan terus bersama mu, apapun yang ada pada dirimu dan yang kamu miliki, aku juga akan terus pada agama yang ada padamu. Siang ini ga ada mood untuk keluar, maaf. Minggu depan ayah menyuruh kirim rombongan (lamaran) untuk ke rumah.“
Terkadang kisah seperti diatas masih saja sering terjadi. Wahai kalian pemuda dan pemudi yang dirahmati Allah, jika kalian merasa telah mampu dan yakin untuk menikah. maka segerakanlah. Sungguh- sungguh merugi orang yang menunda-nunda terhadap rahmatnya Allah. Silahkan SHARE dan berikan KOMENTAR ya.
Dipublikasikan oleh: Sebarkanlah.com
Cerita oleh: Salman Al-fasyimy via Facebook
Gambar Ilustrasi: Wanita Muslimah via Google

Awas bunda wajib Baca !! Mohon jangan Digoyang-goyang saat Digendong, Karna Terguncang Otak Bayi ini ‘Hilang’ Setengah

Memiliki bayi adalah kebahagiaan bagi pasangan menikah. Bayi bisa membuat suasana rumah menjadi hidup dan ceria. Walaupun dibutuhkan waktu yang cukup ekstra, untuk merawatnya.


Terkadang kegembiraan ini, membuat pasangan yang baru menjadi orangtua kewalahan, bahkan terlalu berlebihan dalam memperlakukan bayinya, terutama bayi yang masih di bawah satu tahun.
Nah, ada juga beberapa pelajaran yang harus Anda perhatikan ketika baru menjadi orangtua. Salah satunya adalah jangan mengoyang-goyangkan bayi saat digendong, jika Anda tidak ingin bayi Anda kehilangan setengah isi otaknya.
Kejadian ini dialami seorang bayi, di mana setengah otaknya terpaksa diangkat setelah diguncang-guncangkan saat ia berumur delapan bulan.
Cheyenne Rae yang berasal dari Spartanburg County, South Carolina, mengalami kerusakan otak setelah ayahnya James Davis Jr, mengguncang bayi ketika dia tidak berhenti menangis pada tahun 2012 lalu.
Ayah bayi ini berpisah dengan istrinya kemudian merawat gadis kecilnya. Namun akibat kejadian tersebut, ia kemudian dihukum 10 tahun penjara setelah mengaku bersalah.
Bayi malang yang kini tumbuh.
Bayi malang yang kini tumbuh.
Cheyenne sendiri mengalami keretakan pada tengkoraknya dan menderita pendarahan pada otak, namun ajaibnya ia berhasil melewati masa krisis. Dan kini sang bayi sudah tumbuh dan saat ini berumur 4 tahun.
Meskipun demikian, perawatan medis terus dilakukan dan ia kini menjalani terapi bicara, karena ia sangat lambat untuk melakukannya akibat banyak sekali sel-sel syaraf di otaknya yang hilang.
Ini adalah pelajaran bagi kita semua sebagai orangtua, untuk tidak mengguncangkan atau menggoyang-goyangkan bayi dengan keras. Apalagi kita tahu, jika tulang-tulang mereka masih sangat rawan.
Silahkan share ke semua temanmu supaya hati-hati saat menggendong bayinya. [HP – Sebarkanlah.com /balabal10]

Jangan Jadikan Aku Istrimu, Baca Sampai Habis Kalau Berani

Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti dengan alasan bosan kamu berpaling pada perempuan lain.
Kamu harus tahu meski bosan mendengar suara dengkurmu, melihatmu begitu pulas. Wajah laki-laki lain yang terlihat begitu sempurnapun tak mengalihkan pandanganku dari wajah lelahmu setelah bekerja seharian.

Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti kamu enggan hanya untuk mengganti popok anakmu ketika dia terbangun tengah malam. Sedang selama sembilan bulan aku harus selalu membawanya di perutku, membuat badanku pegal dan tak lagi bisa tidur sesukaku.
Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti kita tidak bisa berbagi baik suka dan sedih dan kamu lebih memilih teman perempuanmu untuk bercerita. Kamu harus tahu meski begitu banyak teman yang siap menampung curahan hatiku, padamu aku hanya ingin berbagi. Dan aku bukan hanya teman yang tidak bisa diajak bercerita sebagai seorang sahabat.
Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti dengan alasan sudah tidak ada kecocokan kamu memutuskan menjatuhkan talak padaku. Kamu tahu betul, kita memang berbeda dan bukan persamaan yang menyatukan kita tapi komitmen bersama.
Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti kamu memilih tamparan dan pukulan untuk memperingatkan kesalahanku. Sedang aku tidak tuli dan masih bisa mendengar kata-katamu yang lembut tapi berwibawa
Jangan pilih aku sebagai istrimu, jika nanti setelah seharian bekerja kamu tidak segera pulang dan memilih bertemu teman-temanmu. Sedang seharian aku sudah begitu lelah dengan cucian dan setrikaan yang menumpuk dan aku tidak sempat bahkan untuk menyisir rambutku.
Anak dan rumah bukan hanya kewajibanku, karena kamu menikahiku bukan untuk jadi pembantu tapi pendamping hidupmu. Dan jika boleh memilih, aku akan memilih mencari uang dan kamu di rumah saja sehingga kamu akan tahu bagaimana rasanya.
Jangan pilih aku sebagai istrimu, jika nanti kamu lebih sering di kantor dan berkutat dengan pekerjaanmu bahkan di hari minggu daripada meluangkan waktu bersama keluarga. Aku memilihmu bukan karena aku tahu aku akan hidup nyaman dengan segala fasilitas yang bisa kamu persembahkan untukku.
Harta tidak pernah lebih penting dari kebersamaan kita membangun keluarga karena kita tidak hidup untuk hari ini saja.
Jangan pilih aku jadi istrimu, jika nanti kamu malu membawaku ke pesta pernikahan teman-temanmu dan memperkenalkanku sebagai istrimu. Meski aku bangga karena kamu memilihku  tapi takkan kubiarkan kata-katamu menyakitiku.
Bagiku pasangan bukan sebuah trofi apalagi pajangan, bukan hanya seseorang yang sedap dipandang mata. Tapi menyejukkan batin ketika dunia tak lagi ramah menyapa. Rupa adalah anugerah yang akan pudar terkikis waktu, dan pada saat itu kamu akan tahu kalau pikiran dangkal telah menjerumuskanmu.
Jangan pilih aku jadi istrimu, jika nanti kamu berpikir akan mencari pengganti ketika tubuhku tak selangsing sekarang. Kamu tentunya tahu kalau kamu juga ikut andil besar dengan melarnya tubuhku. Karena aku tidak lagi punya waktu untuk diriku, sedang kamu selalu menyempatkan diri ketika teman-temanmu mengajakmu berpetualang.
Jangan buru-buru menjadikanku istrimu, jika saat ini kamu masih belum bisa menerima kekurangan dan kelebihanku. Sedang seiring waktu, kekurangan bukan semakin tipis tapi tambah nyata di hadapanmu dan kelebihanku mungkin akan mengikis kepercayaan dirimu.
Kamu harus tahu perut buncitmu tak sedikitpun mengurangi rasa cintaku, dan prestasimu membuatku bangga bukan justru terluka.
Jangan buru-buru menjadikanku istrimu, jika saat ini kamu masih ingin bersenang-senang dengan teman-temanmu dan beranggapan aku akan melarangmu bertemu mereka setelah kita menikah.
Kamu harus tahu akupun masih ingin menghabiskan waktu bersama teman-temanku, untuk sekedar ngobrol atau creambath di salon. Dan tak ingin apa yang disebut “kewajiban” membuatku terisolasi dari pergaulan, ketika aku semakin disibukkan dengan urusan rumah tangga.
Menikah bukan untuk menghapus identitas kita sebagai individu, tapi kita tahu kita harus selalu menghormati hak masing-masing tanpa melupakan kewajiban.
Jangan buru-buru menikahiku, jika saat ini kamu sungkan pada orang tuaku dan merasa tidak nyaman karena waktu semakin menunjukkan kekuasaannya. Bagiku hidup lebih dari angka yang kita sebut umur, aku tidak ingin menikah hanya karena kewajiban atau untuk menyenangkan keluargaku.
Menikah denganmu adalah salah satu keputusan terbesar di hidupku yang tidak ingin kusesali hanya karena terburu-buru.
Jangan buru-buru menikahiku, jika sampai saat ini kamu masih berpikir mencuci adalah pekerjaan perempuan. Aku tak akan keberatan membetulkan genting rumah, dan berubah menjadi satpam untuk melindungi anak-anak dan hartamu ketika kamu keluar kota.
Hapus aku dari daftar calon istrimu, jika saat ini kamu berpikir mempunyai lebih dari satu istri tidak menyalahi ajaran agama. Agama memang tidak melarangnya, tapi aku melarangmu menikahiku jika ternyata kamu hanya mengikuti egomu sebagai laki-laki yang tak bisa hidup dengan satu perempuan saja.
Hapus aku dari daftar calon istrimu, jika saat ini masih ada perempuan yang menarik hatimu dan rasa penasaran membuatmu enggan mengenalkanku pada teman-temanmu. Kamu harus tahu meski cintamu sudah kuperjuangkan, aku tidak akan ragu untuk meninggalkanmu.
Hapus aku dari daftar calon istrimu, jika saat ini kamu berpikir menikahiku akan menyempurnakan separuh akidahmu sedang kamu enggan menimba ilmu untuk itu. Ilmuku tak banyak untuk itu dan aku ingin kamu jadi imamku, seorang pemimpin yang tahu kemana membawa pengikutnya.
Jangan jadikan aku sebagai istrimu, jika kamu berpikir bisa menduakan cinta. Kamu mungkin tak tahu seberapa besar aku mengagungkan sebuah cinta, tapi aku juga tidak akan menyakiti diriku sendiri jika cinta yang kupilih ternyata mengkhianatiku.
Jangan jadikan aku sebagai istrimu, jika kamu berpikir aku mencari kesempurnaan. Aku bukan gadis naif yang menunggu sang pangeran datang dan membawaku ke istana.
Mimpi seperti itu terlalu menyesatkan, karena sempurna tidak akan pernah ada dalam kamus manusia dan aku bukan lagi seorang gadis yang mudah terpesona.
Jangan pernah berpikir menjadikanku sebagai istrimu, jika kamu belum tahu satu saja alasan kenapa aku harus menerimamu sebagai suamiku. [Penulis: Rina Tri Lestari]

Friday, August 12, 2016

Biadab! Anak Paksa Ibunya yang Sakit Beli iPhone6 untuk Dihadiahkan Pada Kekasihnya

Seorang anak yang masih berusia 15 tahun memaksa ibunya untuk membeli iPhone 6 Plus 64GB, dan parahnya iPhone itu untuk dijadikan hadiah kepada kekasihnya.

Hal ini diketahui setelah seorang penjaga counter memberitahukan bahwa kemarin dia mendapatkan pelanggan seorang ibu dan anaknya.
Dari pengakuan penjaga counter, si ibu itu kakinya sakit dan pincang saat berjalan, sekilas ibu terlihat tidak kuat untuk melangkah karena kakinya sakit.
Dengan ramah, si penjaga counter pun memberikan layanan kepada ibu dan anak yang ingin membeli iPhone ini.
Berikut ini percakapan yang terjadi antara si penjaga counter dengan sang ibu yang sakit dan anaknya:
Aku:- Assalamualaikum makcik, kami ada set handphone, laptop dengan barangan rumah. Ada tiga cara bayaran, cash, kad kredit dan ansuran mudah.
Ibu:- Kalau ansuran mudah macam mana cara dia?
Aku:- Kalau ansuran mudah, sediakan penyata gaji, salinan kad pengenalan dan penyata bank. Kalau malas nak pergi bank buat penyata bank, bagi je nombor akaun, saya buatkan penyata bank. Makcik nak apa, saya kirakan sekali bayaran bulanannya. Paling maksimum bayaran boleh sampai tiga tahun saja.
Anak:- Okay bang, berapa eh sebulan untuk iPhone 6 Plus 64GB dengan Samsung Note 4?
Aku:- *terus ambil kalkulator kira* Okay, kalau dua handphone, RM296 untuk sebulan selama 3 tahun.
(Sambil tersenyum aku tengok, muka makcik itu yang macam resah. Aku tahu makcik tu orang susah).
Anak:- Okay, Ibu jadi eh? Boleh eh?
Ibu:- (Hanya mampu mengangguk mengikut kehendak anak dia)
Aku:- Beli handphone sampai dua, satu siapa punya? Umur adik berapa?
Anak:- Yang Samsung Note 4 itu saya punya, yang iPhone 6 128GB tu saya nak hadiahkan kepada makwe saya bang. Minggu depan hari lahir dia. Umur 15.
Aku:- (Mengucap dalam hati, sambil geleng kepala. Ya Allah, macam ni sekali anak dia buat kat Ibu dia? Ibu dia yang bayar bulan-bulan, senang-senang je anak bagi kat makwe dia).
Ibu dia terus keluarkan dokumen, aku tengok penyata gaji Ibu dia sebulan cuma RM950.
Aku:- Okay makcik, nanti saya proses. Dalam masa seminggu akan dapat jawapan lulus ke tak.
Ibu:- Okay, baik dik. Terima kasih. (Dengan wajah seperti pasrah dengan kehendak anak dia)
Aku:- Sama-sama makcik. Datang lagi. (Aku senyum dengan rasa bersalah tengok keadaan Ibu dia yang kaki tempang berjalan keluar)
Percakapan di atas memang berbahasa Malaysia, karena peristiwa ini memang terjadi di Malaysia, namun menjadi viral di sosial media.
Bayangkan, masih kecil saja anaknya sudah memperlakukan ibunya seperti ini, bagaimana jika si anak kelak sudah besar? Apakah dia masih memperlakukan ibunya begini? Atau bahkan lebih parah?

Dalam batinnya, si penjaga counter pun berdo’a semoga Allah memberikan kekuatan kepada sang ibu, dan dalam penuturannya dia mengaku ingin menangis menyaksikan hal ini.
Untuk semuanya, janganlah memaksakan kehendak kita kepada orang tua kita, kasihani mereka yang berjuang mati-matian mencari nafkah untuk kita.
Silahkan share artikel ini kepada semua temanmu, supaya tidak ada lagi yang memperlakukan ibunya seperti ini. [HP – Sebarkanlah.com /Siti Sara] 

Thursday, August 11, 2016

Masih Ingat dengan Pemeran Utama Disinetron berjudul Tuyul dan Mbak Yul /Jin dan Jun. Oom Jin, TERNYATA KABARNYA SEKARANG MENGEJUTKAN !!!

Disaat masa keemasannya,  mereka bak seorang public figure yang sangat dicintai oleh para fansnnya, mereka begitu dikenal dan dipuja. Namun aura kebintangan mereka meredup seiring waktu berjalan, para fans meninggalkannya dan mengganti yang baru.

Bahkan sederet artis ini mengalami hidup yang miris saat di hari tuanya, selain terdegradasi oleh bintang-bintang baru, mereka juga bisa dikatakan hidup serba kekurangan dimasa tuanya. Nah kira-kira siapa sajakah artis jatuh miskin di akhirnya kejayaannya tersebut ? berikut daftarnya:
1. Bambang Triyono
Buat kamu yang lahir di tahun 90-an, pastinya sudah pernah mengenal sinetron komedia yang berjudul Tuyul dan Mbak Yul.
Selain ada tokoh utamanya yakni Ucil yang diperankan oleh Ony Syahrial, ada satu tokoh lain yang menemani Ucil dalam sinetron tersebut.
Dia adalah Bambang Triyono yang berperan sebagai Kentung, seorang tuyul yang memiliki tubuh raksasa yang selalu membantu ucil saat dalam kesusahan.
Bambang Triyono begitu terkenal saat itu, dan bahkan dia bisa dikatakan menjadi orang sukses.
Namun semua itu sirna sudah setelah ia sudah tidak menjadi aktor lagi, kehidupan Bambang yang dulunya begitu sukses, saat ini berubah drastis dan sangat mengenaskan.
Ia saat ini hanya hidup dalam sebuah rumah kos yang sempit dengan peralatan seadanya. Kondisinya pun makin mengenaskan saat ia divonis mengidap penyakit Stroke pada 2010 lalu.
Ia ditemukan oleh petugas Dinas Sosial di Yogyakarta, waktu itu kondisi Bambang sungguh mengenaskan tanpa adanya perhatian dari sanak saudara. Karena kondisinya makin buruk, akhirnya Bambang menghembuskan nafas terakhirnya pada Februari 2015 lalu.
2. M. Amin
Artis jatuh miskin selanjutnya kali ini dialami oleh pemeran Om Jin dalam sinetron Jin dan Jun yang telah sukses menghibur penonton di tahun 90-an.
Dengan karpet ajaibnya, Om Jin bisa membawa Jun (Syahrul Gunawan) kemanapun yang ia mau.
Namun sayang, sudah lama tidak muncul lagi dalam layar kaca, ternyata M.Amin pemeran Om Jin tersebut dikabarkan telah wafat sejak tahun 2013 lalu.
Tidak jauh beda dengan artis seangkatannya, M.Amin juga mengalami kehidupan yang tragis dan menyayat hari dimasa tuanya.
Om Jin yang merupakan seorang penduduk keturunan Pakistan tersebut hidup di pemukiman padat penduduk di daerah Rawa Belong, Kebon Jeruk, jakarta Barat.
Menurut tetangganya, hidupnya saat itu sangat pas-pasan bahkan untuk makan saja susah.
Biasanya ia minta makan di warung tetangga dan ia pun tidak mampu membayarnya, dipenghujung karirinya pun pria tersebut luput begitu saja dari sorotan media, termasuk saat ia meninggal di tahun 2013 lalu.
3. Pak Tile
Pak Tile juga termasuk dalam artis jatuh miskin saat berada di penghujung karirnya. Pak Tile merupakan pemeran engkong dalam sinetron legendaris saat itu yakni Si Doel Anak Sekolahan yang sangat boming ditahun 90-an.
Pada awal karirnya, Pak Tile di kenal sebagai sosok yang sederhana dan tidak pernah mempermasalahkan pembayarannya. Pak Tile pun meninggal pada 2 November 1998 lantaran menderita penyakit kronis saat itu.
Ia meninggal ketika menghadapai gugatan cerai dari istri keduanya, namun sebelum hal tersebut usai, Pak Tile telah meninggal dunia terlebih dahulu. Di akhir usianya, kehidupan dari Pak Tile pun begitu sangat mengenaskan saat itu.
Ia harus rela tinggal di sebuah rumah kayu lusuh yang berada di bibir sungai, dan ia harus menyewanya Rp 50.000 per bulan. Selain itu,ia juga harus menghidupi istri dan delapan anak yang membuat tak banyak harta yang tersisa.
4. Eddi Gombloh
Jika kamu pernah menonton film yang di perankan oleh Benyamin, maka kamu akan mengetahui salah satu lawan mainnya yang bernama Eddie Gombloh.
Artis yang memiliki tubuh subur ini tidak beda jauh dengan artis lain saat berada di masa tuanya.
Eddie Gombloh juga menjadi artis jatuh miskin saat di penghujung karirnya. Kehidupannya tersebut berbanding terbalik saat ia masih berada di masa kejayaannya, Eddie diketahui telah sukses membintangi 30 Judul Film sebelum akhirya meninggal dunia.
Eddie yang memiliki wajah lucu, sering kali memerankan tokoh yang lucu dan bodoh, sehingga mampu menggugah rasa ingin tertawa para penontonya.
Sebelumnya, ia muncul pertama kali di layar kaca pada stasiun TVRI sebelum ia turun ke film layar lebar.
Namun siapa sangka disaat masa kejayaanya berakhir, hidup dari Eddi Gombloh malah tragis, dan ia dikenal sebagai artis jatuhmiskin.
5. Aminah Cendrakasih
Artis yang dulunya sering banget muncul di layar kaca ini memang sangat terkenal di era 90-an, apalagi ia telah sukses memerankan karakter emak dalam film Si Doel Anak Sekolahan yang merupakan sinetron tersukses saat itu.
Aminah merupakan artis yang sangat berjaya di Era 1950 hingga 1980 an, ia pun mencatatkan rekor sebagai seorang artis senior yang telah sukses memainkan 70 judul film selama ia berkarir dalam dunia hiburan.
Namun siapa sangka, disaat masih muda dulunnya begitu banyak orang yang memujinya, menjadi fansnya, namun disaat dia sudah tidak lagi eksis di dunia hiburan seolah-olah namanya tenggelam bersama karir yang kian redup.
Dimasa tuanya, Aminah justru memiliki kehidupan berbanding terbalik dengan kesulitan ekonomi dan juga kesulitan membayar biaya perawatannya di rumah sakit.
Demkianlah informasi tentang sederat artis jatuh miskin setelah karirnya meredup, yah semoga jasanya dalam memberikan hiburan bagi masyarakat Indonesia dapat dicatat sebagai amal baik oleh ALLAH SWT, Amiin.
sumber:Newsth.com

Wednesday, August 10, 2016

Alhamdulillah.. Gadis Cantik Mantan Girlband Korea Ini Memilih ISLAM dan Berhijab

Dia adalah Ayana Moon, gadis manis yang merupakan mantan personel girlband Korea yang sekarang telah menjadi seorang Mualaf. Tampil dengan jilbab, mantan anggota girlband ini berhasil menjadi salah satu topik yang cukup diperbincangkan di jejaring sosial media.



Ayana adalah mualaf asal Korea Selatan yang menghebohkan dunia maya akhir-akhir ini. Heboh namanya mulai terdengar usai dirinya mengunggah gambar-gambar dirinya mengenakan hijab di akun pribadi Instagram miliknya @xolovelyayana.
Ayana mengunggah puluhan foto yang sebagian besar foto selfie dirinya dengan mengenakan jilbab. Dengan kulit putih yang dibalut dengan jilbab, kecantikan gadis Korea ini semakin mempesona.

Wanita yang bernama asli Ayana Moon ini sekarang ini sedang menempuh studi atau kuliah di Malaysia. Gadis kelahiran 28 Desember 1995 ini, menjadi seorang mualaf ketika bersekolah setingkat SMA di Korea Selatan.

Di Korea Selatan, Islam bisa dikatakan termasuk agama minoritas, tapi warga tak peduli tentang Islam atau membencinya. Hanya beberapa orang yang mengetahui tentang agama Islam.

Seperti yang dilansir laman Emirates247, Sabtu (7/11/2015), dirinya merupakan satu-satunya orang muslim di keluarganya. Walaupun begitu, dia merasa bahagia dan bangga dengan jilbab serta statusnya sebagai pemeluk Islam di negeri yang Islamnya terbilang minortias. Sebagai tambahan hanya ada satu persen penduduk Korea yang memeluk Islam dari 50 juta penduduknya.

Ditanyai mengenai sikap warga Korea Selatan terhadap Islam, Ayana Moon mengatakan kalau mereka tidak peduli dengan agama Islam. Meski mungkin ada sebagian yang membenci, Ayana memastikan mereka tidak akan menghina atau pun menyerang. Sementara itu, gadis cantik ini kabarnya akan melanjutkan pendidikan di Universitas Islam Internasional Malaysia untuk menambah pengetahuan dirinya tentang Islam.

Tuesday, August 9, 2016

Astagfirullah! Setengah Jam Jadi Suami, Pra Ini Ceraikan Istrinya, Alasannya Sungguh Mengharukan!

Menjadi fotografer pernikahan bukan berarti selalu menyaksikan momen bahagia para mempelai dan keluarga. Tapi, ada kalanya juru foto itu menyaksikan. Bahkan, mengabadikan momen-momen sedih yang seharusnya menjadi hari bahagia itu.
Simak saja pengalaman fotografer pernikahan asal Malaysia ini. Juru foto itu mengunggah kisah perkawinan yang menyedihkan melalui akun Facebook Boii Amani Hashim. Kisah suami yang menceraikan istrinya, setengah jam setelah akad nikah.


Dalam pernikahan itu, sang pengantin pria telah sepakat memberi mas kawin senilai RM 22.222,22 atau sekitar Rp 75 juta. Agak mahal memang. Tapi sang lelaki sudah setuju.

Akad nikah pun dilakukan. Dalam sekali lafal, pernikahan itu menjadi sah. Dan di pesta itu bingkisan mas kawin sudah berpindah tangan, dari keluarga pengantin pria ke keluarga pengantin perempuan.

Namun beberapa saat kemudian terdengar keributan dari keluarga pengantin perempuan. “Duit hantaran kurang seribu,” kata keluarga perempuan mempermasalahkan mas kawin dari pengantin lelaki.

Mendengar keributan itu, pengantin permepuan pun bangkit dari duduknya. Dengan nada suara tinggi, dia bertanya kepada lelaki yang baru saja menikahinya, mengapa kurang seribu. Dan pekikan itu disahut keluarganya yang turut mempertanyakan kekurangan mas kawin.

“Sudah tahu tak punya cukup uang, tetapi kenapa sangat gatal ingin menikah,” tanya keluarga pengantin perempuan. Mendengar cercaan itu, sang pengantin lelaki bereaksi. Meski matanya berkaca-kaca, dia tetap berusaha tersenyum. Lantas dia mengambil mikrofon dan berkata, “Baru saja jadi istri tak sampai setengah jam sudah seperti ini.”

“Sengaja saya kurangi seribu karena ingin melihat orang ini seperti apa. Ini saya bawa uang kekurangannya itu,” kata pengantin lelaki itu sambil mengambil gepokan uang dari tas.

“Tak apa-apa lah,” kata dia, “semua

yang ada di sini menjadi saksi saya. Saya ceraikan kamu dengan talak tiga. Assalamu’alaikum.” Lelaki itu meletakkan mic, bersalaman, dan lantas pulang.

Kisah ini diunggah, karena di negeri jiran itu tengah hangat masalah perkawinan yang batal karena kurangnya mas kawin dari pengantin laki-laki. Beberapa waktu lalu, pernikahan yang dilangsungkan di masjid itu berubah menjadi kericuhan.

Bagi banyak orang, pernikahan menjadi hari bahagia. Namun tidak untuk pasangan di Malaysia ini. Mereka bercerai hanya setengah jam setelah akad nikah.

Kisah itu berawal dari kurangnya mas kawin. Pengantik lelaki memang sengaja mengurangi uang hantaran sebesar RM 1.000. Dia ingin melihat tipe seperti apa keluarga dan wanita yang dinikahi itu.

Ya benar saja, setelah menerima seserahan, keluarga mempelai wanita ribut, menghujat pengantin lelaki. Menagih kekurangan uang hantaran. Mempelai wanita pun tak kalah galak. Dengan suara tinggi dia bertanya kepada lelaki yang baru saja menikahinya.

Watak asli sang perempuan dan keluarganya tampak sudah. Sang pengantin laki-laki sangat sedih dibuatnya. Dengan mata berkaca-kaca, pengantin lelaki menyambar mikrofon. Dan di depan para undangan dia mulaoi bicara.

“Baru saja jadi istri tak sampai setengah jam sudah seperti ini,” tutur pengantin lelaki, sebagaimana ditulis fotografer yang mengunggah kisah ini ke akun Facebook Boii Amani Hashim.

“Sengaja saya kurangi seribu karena ingin melihat orang ini seperti apa. Ini saya bawa uang kekurangannya itu,” tambah pengantin itu. Tak hanya mengeluarkan kata-kata. Pengantin itu juga mengeluarkan uang kekurangan hantaran itu dari dalam tas.

“Tak apa-apa lah,” kata dia sambil terus menahan air mata, “semua yang ada di sini menjadi saksi saya. Saya ceraikan kamu dengan talak tiga. Assalamu’alaikum.” Lelaki itu meletakkan mic, bersalaman, dan lantas pulang.

Ya, pidato lelaki itu mengakhiri tali pernikahan itu, yang masih berumur setengah jam. Di saat para undangan belum beranjak, mereka menyaksikan akad sekaligus perceraian.

Semoga Bermanfaat Sahabat, Silahkan Share Dan Komentar Yah :)
(Sumber: dream.co.id)