Showing posts with label Hijab. Show all posts
Showing posts with label Hijab. Show all posts

Monday, August 15, 2016

Buat Para Hijabers, Ini Lah ungkapan Dari Seorang Teman Kristiani tentang Hijab Modis Kalian

So, jangan malu-maluin agama Islam di depan non-muslim guys! Non-muslim saja paham. Ini nasehat indah dari teman kristiani kita untuk para hijabers. Cekidot…!




~ Hijab Gone Wrong ~

Hari ini gue pergi ke sebuah mall bergengsi di kawasan Jakarta Pusat untuk ketemuan sama temen kuliah gue. Jarang-jarang gue pergi ke mall itu di akhir minggu kayak hari ini, karena asumsi gue: pasti rame. Asumsi gue bener. Hari ini, mall itu penuh banget sama bule-bule. Gue ketemu sama temen kuliah gue, ngobrol sambil makan, terus gue pulang. Gue pulang lewat toko buku yang liftnya ngehubungin mall dengan salah satu gedung perkantoran dan gedung itu lebih deket ke halte busway.
Pas gue lagi nunggu lift,
gue ngeliat ada cewek pake hijab modifikasi yang menurut gue bikin dia keliatan kayak pake
sarang lebah. Bayangin aja dia pake hijab dua
rangkap, rangkap pertama dibikin jadi kayak rambut, rangkap kedua modelnya agak
transparan gitu warna biru tua terus dililit-lilitin di kepalanya dengan aksen berantakan. Buat gue sih keliatannya jadi kayak sarang lebah.
Sepanjang perjalanan pulang, gue terus mikirin
fenomena hijab ini, sampe gue sempet ngetwit beberapa pendapat gue. Tapi kayaknya kok nggak afdol ya kalo cuma disampein lewat Twitter, enaknya kalo nyerocos panjang lebar sekalian di blog. Jadilah gue berusaha mengingat poin-poin apa yang mau gue tulis di blog malam
ini. Semoga bisa jadi refleksi buat kalian semua, pembaca blog gue yang berhijab atau mau pake hijab.
Nggak dipungkiri lagi, mode hijab sekarang lagi ngetren banget di Indonesia. Buat gue yang minoritas, kerasa banget lho perbedaannya. Selama 4 tahun kuliah aja, entah berapa temen gue yang memutuskan untuk pake hijab.
Kemanapun gue pergi, naik apapun gue, selalu
ada anak muda yang berhijab. Gue sih menyambut perubahan ini sebagai sesuatu yang bagus, karena lihat dari segi positifnya sih
akhirnya banyak wanita Muslim yang mau menutup sesuatu yang disebut aurat di agama mereka. Diharapkan setelah pake hijab, kelakuan wanita Muslim juga lebih ke arah Muslim dan jadi contoh yang baik untuk masyarakat.
Tapi walaupun sepositif-positifnya gue, tetep aja gue ngerasain banyak banget dampak negatif dengan mode hijab ini. Bukan negatif secara agama, tapi negatif secara image. Gue ngerasa, hijab yang belakangan ini jadi mode, lama-lama malah dianggap sebagai aksesori semata. Kesan kesucian agamanya hilang karena makin banyak hijab yang dimodel-modelin.
Ya mulai dari punuk unta lah (ini model hijab yang paling gue sebel,emang enak ya ada cepolan tinggi di atas kepala lo?), bentuknya kayak rambut lah, macem-macem deh, gue sendiri juga nggak tau nama-nama modelnya apa karena ya emang nggak pernah pake hahahaha!
Mungkin modifikasi hijab ini dilakukan untuk menarik wanita Muslim untuk berjilbab, dengan pemikiran hijab bisa keliatan update dan bisa menjawab keresahan wanita Muslim yang pengen berhijab tapi takut nggak bisa keliatan modis lagi. Tapi gue nggak setuju tuh sama pemahaman kayak gini karena lama-lama laju modifikasi hijab terkesan makin nggak beraturan dan jadi nggak sesuai dengan norma-norma agama Islam yang ada. Ya harus sesuai norma Islam dong, itu kan perangkat agama.
Daripada hijab dijadiin komoditas mode, sekalian aja pake headscarf ato turban! Sama-sama penutup kepala dan bisa dibikin modis kan?
Contohnya aja deh. Misalnya beberapa tahun lagi selain tren hijab akan ada tren pake kalung salib atau hal-hal yang berkaitan dengan salib kayak kaos gambar salib, gelang dengan bandul salib, dan lain sebagainya. Gue, sebagai orang Kristen, pasti suka, karena gue ngerasa lambang agama gue diterima di masyarakat luas. Tapi gue akan jadi sebel kalo makin banyak orang yang menyalahgunakan pemakaian gambar salib, kayak misalnya muncul motif salib terbalik (yang di agama gue adalah simbol dari Antikristus), atau salib yang dimacem-macemin modelnya,
sehingga esensi kesucian dari salib itu hilang.
Lama-lama orang pake ornamen salib bukan
untuk semakin mengimani agamanya, tapi untuk gaya-gayaan. Nah, ini yang gue rasakan terhadap laju mode hijab yang makin lama makin cepat ini.
Perempuan Muslim lama-lama pake hijab bukan sebagai tanda patuh terhadap perintah agama, tapi cuma karena hijab lagi ngetren. Nanti kalo suatu saat tren hijab ilang, lalu mau diapain dong cewek-cewek Muslim yang pake hijab cuma buat aksesoris doang?
Masa disuruh lepas hijabnya?
Maafkan gue, tapi gue masih berpikir bahwa lo
pake hijab kalo lo merasa siap. Siap untuk apa?
Siap untuk berpakaian sederhana, siap untuk
nahan diri pamer badan lo ke masyarakat, siap untuk menjalankan hidup yang nggak sepenuhnya duniawi. Bahasa gampangnya? Siap mengerem diri pake celana skinny jeans dan baju ketat. Siap menolak kalo ditawari ngerokok atau minum. Kalo di agama Katolik, gue menganalogikan cewek yang siap pake hijab itu kayak cewek yang memutuskan untuk jadi
biarawati.
Kesamaannya terletak di kewajiban untuk menjalankan hidup sederhana. Tapi masalahnya banyak cewek jaman sekarang yang pengen keliatan mewah padahal pake hijab.
Yeeee, lu harus milih salah satu… karena pada dasarnya hijab itu menutup aurat lu dan menutup semua kekayaan lu supaya nggak dilihat dunia…
Padahal, kalo aja cewek-cewek itu mau nyari tau lebih banyak, ada kok cara-cara pake hijab yang sederhana tapi masih keliatan rapi dan mewah.
Mewah itu nggak perlu jadi kayak toko perhiasan berjalan kok. Lo punya temen cewek yang bajunya sederhana tapi keliatan rapi dan
mewah? Nah, tanyain caranya sama dia. Dengan pemilihan warna dan bentuk baju yang tepat untuk badan kita (tanpa harus ngeliatin lekuk tubuh), kita bisa keliatan rapi, sederhana tapi mewah dengan hijab yang (kata ustad) syar’i.
Actually you can have the best of both worlds,
you just gotta work more to achieve it.
Udah ah, sekarang gue mau menyerahkan
semuanya ke kalian. Pilih keputusan berhijab karena memang keputusan dari hati atau cuma pengen ikut-ikutan aja? Beneran siap nggak pake hijab? Karena hijab itu bukan sekedar tren.
Modifikasi hijab memang lagi tren, tapi esensi dari hijab sendiri adalah sebagai alat agama.
Suatu saat nanti bisa jadi hijab kembali ke bentuk dasarnya. Jangan sampe buta dan nggak bisa ngebedain tren dengan perangkat agama.

Pikir juga, apa yang akan lo lakuin kalo tren modifikasi hijab lenyap dimakan waktu? Bakal tetep pake hijab atau malah lepas hijab karena udah nggak tren lagi? [Kurisetaru[dot]blogspot[dot]com]

Sunday, August 7, 2016

Panasnya hijabku lebih baik dibandingkan panasnya neraka

MBAK gak merasa kepanasan ya?” sebuah suara perempuan tiba-tiba mengejutkanku. Seorang mahasiswi menyapaku di depan ruang jasa foto-kopi di kampus.

“Pake begitu kan bisa bikin gerah,” perempuan itu kembali mengejarku dengan pertanyaan. Sempat kulirik, kedua matanya tak lepas menyapu seluruh pakaian yang kubiarkan menjutai hingga ke bawah.
Seperti biasa, aku memakai stelan jubah longgar yang kupadu dengan jilbab besar hingga menutupi kedua tanganku. Mungkin dia memperhatikan pakaian yang kupakai.
Sambil tersenyum, aku balik menatap. Seorang gadis berjilbab pendek dan transparan. Bajunyapun ketat. Ia juga memakai celana yang semuanya menampakkan lekuk tubuhnya dengan jelas. Yup, inilah stylelist muslimah zaman sekarang. Jilbab gaul dan trendy, kata sebagian orang.
Dengan ramah, aku menjawab pertanyaannya, “Iya panas juga sih. Tapi tidak masalah kalau sudah terbiasa,” ujarku tersenyum. “Lagipula, daripada panasnya Neraka lebih baik panas di sini lho,” imbuhku santun.
Sejenak ia terdiam dalam tatapanku. Hingga akhirnya ia juga mengangguk sambil tersenyum. Kujabat tangannya, kini aku hendak pamit. Foto-kopi tugas makalah sudah beres. Ia kembali tersenyum.
Entah apa di pikirannya saat ini. Jelasnya, aku merasa plong bisa menjawab satu di antara puluhan pertanyaan yang biasa menghampiriku.
Dari kejauhan suara merdu azan Dzuhur sudah berkumandang memanggil orang-orang beriman menuju kemenangan. Saya bergegas ke masjid.
Budaya Arab?
Boleh jadi ilustrasi dialog di atas pernah dialami beberapa orang Muslimah. Kisah yang kerap menghampiri para Muslimah yang mencoba istiqamah berhijab sesuai tuntunan syariat. Sejumlah gelar dan stigma negatif seolah menjadi sarapan wajib mereka. Mulai dari julukanninja, teroris hingga mendapat sorakan “Aisyah Ayat-Ayat Cinta”.
Komentar sinis juga tak henti menerpa, bahwa baju dan jilbab lebar tersebut cocoknya di negeri Timur Tengah sebagai budaya Arab, bukan dipakai di Indonesia.
Tak kalah beratnya dari pihak keluarga, sebagian orangtua dan keluarga masih menentang niat para Muslimah yang ingin menyempurnakan hijabnya. Alasan susah dapat jodoh, sempit peluang kerja, hingga kepada anggapan susah bergaul di lingkungan keluarga.
Di kalangan sebaya pun demikian. Para Muslimah tersebut siap-siap dijuluki kayak emak-emak, rempong, sok suci, sok alim, belum pantas , dan sebagainya.
Please Don’t Bully Me
Dalam proses perjalanan keimanan seorang Muslimah, memakai hijab syar’i tentu menjadi awal langkah yang baik. Memilik pakaian termasuk pilihan dari pandangan hidup. Hatta, mereka hobi telanjang di tempat umum (nudist) meski itu jelas tindakan amoral, jika ditanya alasannya, ujungnya pasti untuk ‘menunjukkan identitas dan ideologi’. Yang pasti ‘ideologi ketelanjangan’.
Dalam buku “Dress and Ideology- Fashioning Identity from Antiquity to the Present”, orang Barat sendiri meyakini,  gaun dan fashion adalah sarana visual yang kuat untuk mengkomunikasikan ideologi, politik, sosial atau agama seseorang atau kelompok.
Bahkan selama Revolusi Prancis, memakai celana atau gaun bisa melambangkan ortodoksi ideologis dan pemberontakan. Revolusi Prancis tahun 1789 dan Revolusi Amerika, ditandai kemerdekaanya tahun 1776 salah satunya perobahan gaya hidup; mode rambut dan pakaian.
Bahkan Bennett, A. (2005) pernah mengatakan, “Fashion menyediakan salah satu cara yang paling siap di mana individu dapat membuat pernyataan visual yang ekspresif tentang identitas mereka.”
Karena itu, jika pilihan saya dengan jilbab panjang (jilbab syar’i) juga pasti dengan pilihan yang tidak sembarangan. Sebab pilihan ini didasarkan firman Allah;
قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya …” (QS. An-Nur [24]: 31).
Selain itu, dasar lainnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (Swt) ;
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab [33]: 59).
Inilah landasan terkuat, mengapa menurut saya seorang Muslimah harus berhijab. Ada perintah Allah yang tertuang jelas dalam al-Qur’an. Siapa yang menuruti perintah-Nya, niscaya Allah mencintainya.
Sedang yang melanggar perintahnya, maka bersiaplah menerima murka Allah. Untuk itu, tolong jangan usik dan hakimi para Muslimah yang sedang mencoba menyempurnakan hijabnya. Sebab itulah upaya mereka untuk taat kepada perintah Rabbnya, Sang Pencipta.
Selalu berharap menjadi wanita shalehah adalah alasan utama seorang Muslimah berhijab, termasuk saya. Dengan hijab yang benar, Muslimah itu belajar taat kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Dengan hijab yang syar’i, Muslimah itu belajar menjaga ifffah (kesucian) dirinya. Dengan hijab yang sesuai, Muslimah itu belajar akhlak dan beradab.
Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam (Saw) bersabda: “Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim). Jadi panas atau gerah, ini adalah pilihan.
Untukmu Saudariku
Terakhir, izinkan aku berbagi nasihat kepada diriku dan saudariku sekalian;
Bukan aku baik sehingga aku berhijab. Justru dengan hijabku, aku berusaha agar bisa melangkah dalam kebaikan.
Bukan karena aku suci sehingga aku berhijab. Namun dengan hijabku, aku berusaha menjaga kesucian.
Bukan karena aku santun sehingga aku berhijab. Namun dengan hijabku, aku berusaha menjadi pribadi yang santun.
Bukan karena aku berpemahaman luas sehingga aku berhijab. Namun dengan hijabku, aku berusaha meluaskan pemahaman.
Bukan karena aku alim sehingga aku berhijab. Namun dengan hijabku, aku berusaha menjadi sosok yang alim.
Oleh karena itu, bukan salah hijabku jika aku khilaf dan berbuat salah. Akupun berusaha memperbaiki diri menjadi seorang muslimah yang kaffah, demi taatku kepada Rabbku.
*/ Mustabsyirah Syammar, pengurus An-Nisa Hidayatullah Samarinda
SUMBER :http://www.sebarkanlah.com/inspirasi/panasnya-hijabku-lebih-baik-dibandingkan-panasnya-neraka.html